Pernahkah kamu membayangkan kalau kota Tulungagung yang sekarang ramai, subur, dan penuh aktivitas dulu adalah hamparan rawa luas yang ditakuti? Ya, benar sekali! Sebuah video pendek di TikTok dari akun @rightspace.media menceritakan perjalanan menakjubkan ini dengan kalimat pembuka yang puitis: “Air membentuknya, manusia mengubahnya.”
Dulu, daerah ini dikenal dengan nama Ngrowo—nama lama Tulungagung. Kata “Ngrowo” sendiri dalam bahasa Jawa merujuk pada rawa atau sumber air yang melimpah. Wilayah ini sebagian besar berupa rawa-rawa luas, sering dilanda banjir besar, dan sulit dihuni. Menurut legenda lokal yang beredar turun-temurun, kawasan ini dianggap angker alias berhantu. Konon, rawa-rawa itu dipenuhi makhluk gaib dan supernatural, membuat orang-orang enggan mendekat.
Bayangkan saja: genangan air tak berujung, kabut tebal, dan cerita mistis yang membuat bulu kuduk merinding!
Semuanya berubah drastis pada masa penjajahan Belanda. Pemerintah kolonial Belanda melihat potensi besar di tanah ini—tanah subur yang tersembunyi di balik rawa. Mereka pun membangun kanal-kanal besar (saluran air raksasa) untuk mengeringkan rawa-rawa tersebut. Proyek rekayasa hidrologi ini sukses besar: air surut perlahan, tanah baru muncul dari dasar rawa, dan lahan yang tadinya tergenang menjadi area yang layak untuk pertanian serta pemukiman.
Jika anda butuh toko bunga di Tulungagung bisa klik disini
Pelan tapi pasti, permukiman mulai dibangun. Penduduk berdatangan, sawah-sawah dibuka, dan infrastruktur berkembang. Dari rawa angker yang ditakuti, lahirlah Tulungagung modern yang kita kenal hari ini—kabupaten di Jawa Timur yang terkenal dengan marmer berkualitas tinggi, pertanian subur, dan kota yang semakin maju.
Video tersebut diakhiri dengan nada kagum: “Dari rawa menjadi kota. Keren banget, kan?” Memang keren! Ini bukti nyata bagaimana alam membentuk suatu wilayah melalui air dan banjir, tapi manusia—lewat usaha, teknologi, dan visi—bisa mengubah nasibnya menjadi lebih baik.
Nama “Tulungagung” sendiri resmi digunakan mulai tahun 1901 pada masa Belanda, menggantikan “Ngrowo”. Ada beberapa versi asal-usul nama ini, tapi yang paling populer adalah gabungan “tulung” (sumber air atau pertolongan dalam bahasa Jawa/Sanskerta) dan “agung” (besar), yang mencerminkan sumber air melimpah sekaligus “pertolongan besar” yang didapat daerah ini dari rekayasa air.
Jadi, lain kali kalau kamu ke Tulungagung, ingat ya: di balik jalan-jalan rapi dan bangunan modernnya, ada cerita epik tentang perjuangan melawan rawa dan legenda angker. Air memang membentuknya, tapi manusia yang mengubahnya menjadi kota hebat seperti sekarang.
#SejarahLokal #Tulungagung #Ngrowo #TransformasiKota






































